AZROHAL HASAN

HISTORY NEVER DIES

Sejarah Perisikan/Intelejen Di Tanah Melayu

21 December 2015 - dalam History Oleh azro_el-fib11

PENDAHULUAN

Dalam masa Pra sejarah manusia purba sebenarnya secara tidak langsung sudah mengenal metode perisikan sederhana, mereka bertahan hidup dalam ganasnya kompetisi untuk mempertahankan hidup di alam, seperti ketika mengintai binatang yang akan di buru, teknologi pengintipan yang dilakukan untuk mengetahui posisi yang tepat untuk menangkap binatang. setelah manusia semakin maju keinginan untuk saling berkompetisi untuk menjadi yang paling superior manusia berebut wilayah kekuasaan sebagai hak golongan atau kaum, konflik dan peperangan dalam masa sebelum perang dunia pun sudah terjadi hingga puncaknya pada masa kolonialisasi, seorang agen akan dikirim keberbagai wilayah untuk mengumpulkan informasi yang akan berguna sebagai bahan sebelum menaklukkan sebuah wilayah.[1]

Sun Tzu dalam karyanya yang berjudul  The Art of War telah menyatakan bahwa kekerasan bukanlah jalan yang terbaik untuk mengalahkan pihak musuh, sebaliknya kaedah yang paling berkesan adalah dengan menggunakan kebijaksanaan.  Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa betapa perlunya perisikan dijalankan untuk mengenal pasti kekuatan dan kelemahan musuh.  Aktivitas perisikan begitu sinonim dengan aktivitas sulit yang dilakukan oleh agen-agen perisik yang bertanggungjawab merisik untuk mendapatkan rahsia pihak yang dianggap sebagai musuh atau sebuah negara yang lain, yang mana tujuannya adalah untuk ketentaraan, politik, ekonomi dan sebagainya.[2] Aktivitas perisikan ini tujuan utamanya untuk mengumpulkan semua data yang dapat dianalisis dan diguna pakai dalam menyelesaikan permasalahan, tak hanya dalam sebuah masa peperangan tapi juga penting ketika Negara tidak sedang berperang, sebaliknya lebih bersifat untuk kebutuhan internal. Untuk menjaga stabilitas sebuah Negara, seperti untuk mengetahui rancangan teroris, penculikan, pembunuhan, politik, pemahaman keagamaan yang radikal membutukan usaha risikan untuk mendapatkan informasi tentang itu. Jepang telah mengawali usaha perisikan di daerah Asia Tenggara terutama di tanah melayu dan juga di Indonesia.

Jauh sebelum Perang Dunia II Jepang telah menyebarkan rakyatnya ke berbagai wilayah di Asia Tenggara termasuk di Tanah Melayu telah menjadi sasaran, persaingan antara british dan Belanda dapat yang kemudian dapat di ambil celah oleh Jepang yang berkeinginan untuk menguasai Tanah Melayu, dalam tempoh antara tahun 1930-an-1941. Jabatan luar negeri Jepang telah secara aktif mengirim berbagai agen secara tidak langsung maupun secara langsung. Penduduk Jepang yang dikirim ke Tanah Melayu tidak menyadari bahwa surat-surat yang dikirim oleh mereka kepada saudaranya di Jepang telah menjadi bahan aktivitas perisikan. Sedangkan aktivitas perisikan secara langsung dilakukan oleh perisik Jepang yang telah diberikan latihan penuh dan bertanggung jawab untuk mendapat informasi di tanah Melayu yang dianggap amat penting oleh Jepang karena menjadi titik persilangan timur-barat di kawasan Asia Tenggara untuk menguasai wilayah Asia Tenggara Jepang harus menguasai Tanah Melayu dan Sumatera sebagai benteng pertahanan serangan dari Barat karena Jepang mendapatkan informasi serangan balasan akan dilancarkan dari Srilanka dan India oleh karena itu pusat tentara Jepang harus berada di selat Melaka dan Sumatera dan pesisir pantai barat semenanjung Tanah Melayu[3].

Aktivitas perisikan Jepang memang bermula lebih awal di Tanah Melayu yaitu sejak sebelum berlakunya Perang Dunia yang Kedua.  Jepang sendiri memanfaatkan penduduknya yang berada di Tanah Melayu dalam membantu mereka untuk mendapatkan Informasi mengenai Tanah Melayu.  Oleh karena itu boleh dikatakan bahwa perisikan yang dijalankan oleh Jepang adalah berdasarkan secara tidak langsung, dengan bantuan risikan yang dilakukan oleh penduduknya yang berada di Tanah Melayu, dan juga perisikan secara langsung yang mana hal tersebut dilakukan oleh perisik Jepang yang diberi tanggungjawab mendapatkan informasi secara total.

ISI

Masuknya Perisik Ke Tanah Melayu.

Keadaan Tanah Melayu sebelum kedatangan Jepang berbagai wilayah telah banyak dikuasai oleh Kompeni British, mereka telah banyak membangun bangunan pemerintahan, tempat tinggal, dan tempat hiburan. Hal ini mengakibatkan budaya mereka pun masuk ke Tanah Melayu, seperti kesenangan mereka untuk berpesta dan dansa yang biasa di lakukan di Hotel atau Club malam,[4] Setelah kekalahahan British di Tanah melayu kepada tentara Jepang yang dikarenakan persiapan Jepang yang begitu teliti dengan memahami segala aspek yang ada di Tanah Melayu dalam usaha penaklukannya, pihak British yang tidak siap dalam pertahanan, tidak pengalaman perang dalam hutan, dan tidak mempunyai kelengkapan perang seperti tank dan pesawat udara yang mencukupi. Faktor persediaan yang minimum untuk menghadapi serangan Jepang dan andaian bahwa Jepang tidak mungkin menyerang tanah Melayu akhirnya telah merusak seluruh pertahanan British yang pada hakikatnya masih dalam proses perancangan.[5] Kemarahan Jepang tidak terhalang oleh British yang ketika itu sedang memerintah Tanah Melayu, usaha Perisikan yang telah lama tidak diketahui British, informasi yang diperoleh Jepang atas rapuhnya pertahanan di bagian utara Semenanjung Tanah Melayu telah memberi laluan dengan mudah kepada tentara Jepang untuk masuk ke Tanah Melayu,

Kejatuhan Singapura pada 15 Februari 1942 merupakan detik hitam dalam sejarah keagungan empire British apabila mengakui kekalahan terhadap Jepang, Informasi perisikan British di Singapura mengatakan bahwa Kedutaan Jepang telah membiayai sekitar $12000 untuk membiayai aktivitas perisikan di Tanah Melayu termasuk di Sumatera. Selain itu, Dr.Tsune Ouchi yang bertugas di Biro Kesehatan Liga Nation (League of Nation Health Bureau) mempunyai imuniti diplomatik sehingga mempersulit pihak British untuk mengambil tindakan terhadapnya. Beliau merupakan peneraju kepada aktivitas perisikan di Singapura.[6] Hal ini jelas menunjukkan bahwa pihak Kedutaan Jepang bukan hanya menguruskan warga Jepang yang berada di luar negara tetapi menggunakan agensi ini sebagai satu badan perisikan dan pusat pengumpulan informasi  berkenaan Tanah Melayu.

Ramainya kedatangan Tentara Jepang keberbagai wilayah di Asia Tenggara turut memainkan peranan dalam aktivitas perisikan. Mereka mulai aktif mengumpulkan Informasi berkenaan Asia Tenggara sejak awal abad ke-20 lagi. Tahun 1915, Tentera Laut Jepang telah dikatakan terlibat dalam peristiwa Dahagi 1915 di Singapura apabila kapal tentera laut Jepang memberikan bantuan kepada British untuk mengawal pemberontakan daripada tentara British India (Sepoi).[7]

Agensi Perisikan Jepang telah memberikan latihan yang terbaik kepada setiap agen perisiknya bagi memastikan mereka mempunyai kemahiran yang tinggi. Salah satu langkah awal yang digunakan adalah dengan memberi latihan kemahiran untuk berbahasa asing. Sekolah bahasa asing banyak didirikan di Osaka dan Tokyo.[8] Pada tahun 1940, sebanyak 25 orang pelajar Jepang yang mengikuti kursus untuk menguasai Bahasa Melayu. Pelajar-pelajar yang menerima pelajaran terhadap bahasa ini akan direkrut  dalam agensi perisikan secara langsung atau tidak langsung, kemampuan berbahasa lokal akan membantu agen-agen ini untuk berkhidmat di Tanah Melayu dan mengumpulkan informasi yang diperlukan oleh pihak Jepang.[9]

Di Tanah Melayu jauh sebelum tentara Jepang datang sudah ada beberapa Perisik yang datang sejak sekitar tahun 1933, Salah satunya bernama gyllenskold salah satu perisik dari British.[10] Dan jepang juga telah menjalin hubungan dengan Aceh, hubungan ini bermula apabila satu utusan dari istana Aceh, yaitu sultan M. Daud dan Tuanku Mahmud telah pergi ke Singapura untuk membuat hubungan langsung dengan Konsulat General jepang, hubungan rahasia ini bertujuan untuk mengalahkan kuasa Belanda. Hubungan ini juga berkelanjutan dari kemenangan Jepang dalam mengalahkan Rusia dalam perang Rusia dan Jepang, hubungan ini diperkirakan telah terjadi pada tahun 1907, ketika Tuanku Mahmud telah menjalin hubungan dengan Jepang.

Sekitar penghujung abad ke-19 dan awal ke-20, warga Jepang telah memasuki Tanah Melayu dan bergiat dalam berbagai lapangan ekonomi.  Kemasukan pelacur dari Jepang yang menjadikan Singapura sebagai lahan mencari rezeki.  Malah pada tahun 1981 telah terdapat 445 orang warga Jepang di Tanah Melayu dan dari jumlah tersebut, sebanyak 287 orang berada di Singapura.  Menjelang 1901, jumlah ini bertambah kepada 1559 orang dan sejumlah 766 orang berada di Singapura.  Pada tahun 1921, didapati terdapat seramai 5547 orang Jepang yang berada di Tanah Melayu.[11] 

Sepertinya kehadiran pihak Jepang telah diperhatikan dan dilaporkan oleh pihak Cawangan Khas, British.  Japanese Diary misalnya telah menjadi pengawasan dari pihak Cawangan Khas British yang merekam segala hal berkaitan dengan pergerakan warga Jepang ke kawasan Tanah Melayu, Sumatera dan Jawa sebelum perang bermula.  Pihak British memang menyadari kehadiran mereka seperti mana di dalam laporan risikan British yang jelas curiga akan kunjungan yang dilakukan oleh Konsul General Jepang Kaoru Toyoda ditemani Naib Konsul, Tomogoro Hashizume bersama-sama dengan setiausaha Shunzo Nagayama.  Kecurigaan British ini timbul bila mana lawatan yang dilakukan oleh mereka ke Tanah Melayu adalah tanpa melalui protokol selaku pegawai kerajaan kepada pemerintah British.  Kehadiran Rei Ori yang merupakan Setiausaha Hubungan Luar di Jabatan Hubungan Luar Negeri, Kounn Takeda selaku Naib Presiden, Siasat Ekonomi di Syarikat Kereta api Selatan Manchuria, dan juga Shumei Okawa selaku Badan Penyiasat Asia Timur telah membuktikan bahwa berlakunya aktivitas risikan yang dijalankan oleh pihak Jepang dengan menggunakan alasan kunjungan ekonomi dan pariwisata. Perkara tersebut jelas ditulis dalam laporan risikan British yang mengatakan bahwa mereka adalah merupakan sebagian pegawai risikan tentera Jepang disebabkan oleh penglibatan mereka secara langsung dalam penjajahan di negeri China.

Kehadiran turis Jepang yang drastis sebelum perang dunia kedua berlangsung mengakibatkan pihak British mengambil langkah drastis dengan memperkenalkan Visa bagi mendata serta melihat aktivitas turis. Hal ini adalah disebabkan pihak British sendiri mencurigai corak dan pergerakan yang dilakukan oleh warganegara Jepang yang berada di Tanah Melayu.  Walau bagaimanapun, wujud bantuan pemberian visa palsu kepada perisik Jepang bagi memasuki Tanah Melayu tanpa dikesan hasil kerjasama yang dilakukan oleh syarikat – syarikat Jepang yang berada di Tanah Melayu.  Penangkapan warga Jepang yang bernama Akiyama Motoichu di kapal SS. Hakone Maru pada 9 November 1938 secara jelas memperlihatkan bahwa aktivitas perisikan Jepang telah berjalan dengan kehadiran turis sebagai perantaraan dalam menyampaikan informasi sulit kepada negara Jepang.  Hal yang sama berlaku kepada warganegara Jepang yang bernama Hosaka apabila beliau ditangkap oleh pihak cawangan khas British yang mana Hosaka ini didapati melawati Tanah Melayu dan mengumpul informasi berkenaan rangkaian warganegara dan usahawan-usahawan Jepang yang berada di Tanah Melayu.[12] 

Masyarakat Jepang juga terlibat dengan aktivitas-aktivitas pertanian, perlombongan, perniagaan, nelayan dan profesi seperti tukang gunting rambut, doktor dan sebagainya.  The Kitami Barbers Shop merupakan kedai gunting rambut yang pertama dibuka oleh  orang Jepang pada 1894 di Tanah melayu sementara Dr. Nisimura-Takesiro, Dr. Sato Yuta, Dr. Adati Syohei dan Dr. Oonuki Koko pula telah membuka hospital Jepang yang pertama di Tanah Melayu, terletak di Singapura pada 1910.  Pada tahun berikutnya, hospital Jepang turut dibuka di Kuala Lumpur, Seremban, Ipoh dan Pulau Pinang.  Golongan ini tersebar bukan saja di Kota-kota utama tetapi juga hinga ke kawasan-kawasan terpencil dan mereka kemudiannya digunakan oleh agensi perisikan Jepang sebagai ejen untuk mendapatkan informasi mengenai British di Tanah Melayu.  Menjelang 1940, warga Jepang yang menetap di Tanah Melayu dianggarkan berjumlah 6000 orang.[13]

Kewujudan organisasi yang terancang untuk mendapatkan informasi telah diwujudkan pada abad ke 19. Kemunculan organisasi-organisasi yang dibentuk oleh pihak Jepang bertujuan mengaburkan mata pihak barat dalam mengembangkan akivitas perisikan. Genyosha dan Korkuryukai (Black Dragon Society) adalah rangkaian organisasi perisikan yang dibentuk mengabungkan tokumu kikan (Pusat Cawangan Khas) ia itu tentera darat dan laut. Selain itu, terdapat juga organisasi yang dibentuk dalam bentuk pelajaran, perdagangan dan kebudayaan seperti Toa Keizai Chosa Kyoku. Penubuhan unit Daro Nawa pada 1 Januari 1941 yang kemudian ditukar nama kepada Jabatan Penyelidikan Tentera Darat Taiwan bertujuan untuk mendapatkan informasi dan perisikan yang boleh digunakan tentera Jepang dalam melancarkan serangan di Asia Pasifik termasuklah Tanah Melayu.[14] Rancangan ini telah dilaksanakan dibawah pemerintahan Kolonel Tsuji Masanobu yang berpusat di Taiwan. Sejumlah 20,000 yen diperuntukan bagi mendapatkan informasi merangkumi wilayah Pasifik melibatkan Tanah Melayu, Filipina, Indonesia dan Burma. [15]

Peranan Agensi-Agensi di Tanah Melayu 

  Melalui adanya agen-agen Jepang yang berada di Tanah Melayu, kegiatan perisikan Jepang sebelum perang dunia pertama menjadi lebih mudah.  Fujiwara Kikan didirikan oleh Mejar Fujiwara Iwaichi yang merupakan graduan Nakano Gakko Spy School yang mana badan ini bertanggungjawab untuk mengendalikan sebarang aktivitas perisikan di Tanah Melayu.  F.Kikan dikehendaki untuk menjalinkan hubungan dengan pelbagai pihak yang bersifat anti-British terutamanya orang Cina, Melayu, dan India.  Pasukan F Kikan merupakan lulusan dari Nakano Spy School sendiri.  Fujiwara Iwaichi sendiri telah menjadi ketua dan membentuk kegiatan perisikan di kawasan Asia Tenggara. Kelompok ini telah terlibat dalam golongan yang bersifat anti-British serta golongan nasionalis supaya membantu pihak Jepang dalam mengumpulkan informasi serta menyebarkan propaganda yang bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat lokal mendukung pihak Jepang.  Sebagian dari golongan ini diberikan bantuan latihan dengan menggunakan perlengkapan perisikan serta bantuan keuangan dalam mengumpulkan dukungan serta menyebarkan propaganda.  Fujiwara Kikan yang berpusat di Bangkok kemudian menjalin hubungan dengan Dora Nowa sebagai pusat pengumpulan informasi sebelum disampaikan di Tokyo.  Kelompok pihak British mengetahui hal-hal tersebut telah mengakibatkan pengiriman informasi berkenaan Tanah Melayu begitu mudah menembusi  Tokyo.  Selain itu, F Kikan juga berhasil melatih individu-individu tertentu seperti E H Ong, Wan Jin-wei, dan Patrik Heenan yang dapat memberikan pengaruh dalam aktivitas perisikan di Tanah Melayu yang sekaligus membantu pihak Jepang.

Attache Keselamatan Jepang yang berada di Bangkok merupakan badan perisikan yang bertanggungjawab mengatur segala aktivitas perisikan Jepang di Tanah Melayu, bahkan dalam usaha mendapatkan informasi mengenai Tanah Melayu, wilayah selatan Siam dijadikan sebagai antara pengkalan utama pihak Jepang.  Berdasarkan keadaan ini maka usaha telah dilakukan untuk membiarkan ‘syarikat-syarikat’ Jepang berinvestasi di wilayah tersebut.[16]  Pada bulan Oktober 1941, Kolonel Tamura yaitu Attache Keselamatan di Bangkok telah membuat pembayaran sebanyak 5000 yen kepada Special Service Employee bernama Karimoto atau juga dikenali sebagai Kamimoto Tashio untuk memberikan izin dia mendirikan sebuah kilang memproses getah di Hatyai yang kemudian dijadikan pusat aktivitas perisikan Jepang.[17]  Karimoto yang fasih berbahasa Melayu dibayar sebanyak 5000 yen pada bulan November 1941 untuk mengusahakan aktivitas berkaitan pengeluaran bijih timah.  Beliau kemudiannya dimasukkan dalam Fujiwara Kikan.[18]

Taichong Kongsi adalah merupakan salah satu agensi yang bertanggungjawab memberikan informasi-informasi risikan kepada Jepang.  Taichong Kongsi salah satu di antara wakil kerjasama Jepang, yang rata-rata mempunyai kapal nelayan yang agak banyak jumlahnya.  Sejak 1930an, Taichong Kongsi ini giat dalam aktivitas penangkapan ikan di perairan di Tanah Melayu.  Taichong Kongsi adalah hak milik Eihuku Yeifuku  bersama-sama dengan firma Ishizu Fishing milik Tojiro Ishizu yang berhasil dalam ekonomi perikanan sehingga pada satu ketika lebih 40 per seratus daripada bekalan ikan dapat dibekalkan.[19]  Sektor perikanan dilihat menjadi perhatian orang Jepang memandangkan sektor ini tidak hanya digunakan sebagai izin untuk mereka aktif di sekitar Tanah Melayu, namun dalam pada masa yang sama sektor ini juga memberikan peluang kepada agensi perisikan Jepang untuk secara mudah meneliti dan mengutip informasi berkaitan dengan perairan Tanah Melayu dan Asia Tenggara.  Aktivitas Taichong Kongsi adalah meliputi kawasan di sepanjang Selat Melaka hingga menjangkau ke Andaman, bahkan Taichong Kongsi juga dikatakan telah beroperasi jauh sampai Lautan Pasifik.  Mereka sangat mahir dengan perairan Tanah Melayu dan kebanyakan nelayan dalam perusahaan ini terdiri daripada anggota tentara laut yang menyamar sebagai nelayan.  Kebanyakan kapten kapal nelayan ini bukan saja mahir tentang soal laut, bahkan mereka ini juga dipertanggungjawabkan untuk meninjau dan meneliti laut-laut di sekitar Tanah Melayu serta kawasan sekitarnya.  Mereka kemudiannya akan mengirim laporan kepada agensi perisikan Jepang.  Kapal-kapal nelayan Jepang belayar dan membuat kunjungan ke pelabuhan-pelabuhan di Tanah Melayu dan Cawangan Khas yakin bahwa ini berkaitan dengan aktivitas perisikan untuk mendapatkan dan mengumpulkan informasi tentang Tanah Melayu.  Rene Onraet, Ketua Polis Singapura telah menganggap bahwa nelayan-nelayan Jepang ini sebagai “South Seas Ronin”.[20]

Propaganda Jepang

  Propaganda adalah merupakan pelengkap kepada aktivitas perisikan yang dilaksanakan oleh setiap agensi perisikan di seluruh dunia.  Dalam keadaan ini, aktivitas perisikan Jepang di Tanah Melayu turut bergiat dalam aktivitas propaganda.  Hal ini dilakukan adalah tidak lain tidak bukan semata-mata untuk mendapatkan dukungan masyarakat tempatan kepada pihak Jepang sendiri.  Sehingga bulan Juli 1939 terdapat lima buah penerbitan Jepang di Singapura yaitu The Singapore Nippo, Nanyo Nichi Nichi Shimbun (South Seas Daily), Nanyo Oyabi Nihonjin, The Singapore Herald dan The Chinese Edition of the Singapore Nippo.  Antara agensi penting yang membekalkan informasi dan berita termasuklah The Eastern News Agency yang dijalankan oleh Japan Konsul-general yang juga mewakili Domei di Singapura.  Akhbar-akhbar ini dijadikan medium utama untuk mempromosikan sentimen pro-Jepang dan anti-British, meskipun secara tersembunyi di balik berita yang dikeluarkan.  Selain itu, akhbar juga menjadi medium propaganda untuk mempromosikan idea “Jepang untuk Asia”.[21]

  Pada lewat tahun 1930-an, akhbar-akhbar Jepang ini turut menerbitkan bahan-bahan dalam bahasa Inggris.  Pada bulan Mei 1938, isu pertama dalam akhbar Singapore Nippo telah diterbitkan dalam bahasa Inggris untuk membujuk orang bukan Jepang, termasuklah orang Cina dan Melayu untuk membaca akhbar tersebut.  Akhbar ini mempunyai edisi dalam bahasa Cina.[22]  Akhbar Singapore Herald juga bertujuan menjadi alat propaganda Jepang dan bagi menggalakkan masyarakat lokal membaca akhbar ini, maka telah dijual dengan harga yang murah berbanding dengan harga akhbar berbahasa Inggris yang lain.[23]  Siaran radio dalam bahasa Melayu mula disiarkan pada tahun 1938 melalui sistem Taihoku.[24]  Di Kedah, siaran ini dapat didengar menjelang tahun 1940 hingga 1941.  Melalui siaran berbentuk propaganda ini sedikit sebanyak memberikan kesan kepada pendengar, terutama slogan Jepang yang ingin mengusir orang Eropah dari Asia.

    Selain propaganda melalui media Jepang juga melakukan propaganda dalam sekolah-sekolah dengan mengajarkan nyanyia-nyanyian yang pro terhadap Jepang, Murid-murid disekolah di ajarkan lagu yang menjunjung Jepang dan menghina kolonialisme British salah satu lagunya adalah berikut :

“Apa British buat

Tanam Getah

Tidak boleh Makan

Mesti tanam padi

Boleh makan

Jepang Pandai

British Bodoh”[25]

Propaganda ini membutakan mata masyarakat Melayu lagu-lagu ini di ajarkan di sekolah-sekolah diberbagai daerah di antaranya Perlis, Kedah, Penang dan Perak. Strategi ini secara langsung merubah mindset orang tempatan untuk memberi dukungan kepada Jepang dan menolak British, Jepang akan membantu kemerdekaan Rakyat Melayu dan memberi kesejahteraan pada masyarakat.         

Kolaborasi Perisikan Jepang

Dalam mengukuhkan aktivitas perisikan Jepang di Tanah Melayu, pihak Jepang telah mengadakan beberapa kolaborasi dengan beberapa organisasi dan individu bagi mendapatkan sumber informasi yang lebih kukuh dan tepat sekaligus menjayakan aktivitas perisikan yang dilakukan oleh mereka.  Antara pihak yang menjadi kolaborasi agensi perisikan Jepang adalah Kesatuan Melayu Muda, Orang India, Patrick Heenan, dan Tani Yutaka.

Hubungan antara orang Melayu dengan aktivitas perisikan Jepang pula dilihat dalam kes Ibrahim Haji Yaakub dan Kesatuan Melayu Muda.  Ibrahim Haji Yaakub merupakan presiden Kesatuan Melayu Muda (KMM) yang berhaluan kiri dan dikatakan sanggup menerima pelawaan Jepang untuk bekerjasama dan menjadikan KMM sebagai sayap kelima (fifth column) dalam gerakan anti-British.[26]  Hubungan KMM dengan pihak Jepang bermula apabila Ibrahim Haji Yaakob telah bertemu dengan insinyur Jepang bernama Ishikawa dan Michio Hirakawa yang dikatakan sebagai agen utama Jepang utama Jepang di Tanah Melayu pada tahun 1938.[27]  Melalui Ishikawa, Ibrahim telah diperkenalkan kepada Ken Tsurumi, Konsul General Jepang di Singapura sebelum perbincangan tentang kerjasama antara kedua-dua belah pihak dibawa ke pengetahuan Tokyo.  Hasil daripada pertemuan ini, pihak Jepang telah bersetuju untuk mengeluarkan modal agar Ibrahim dapat membeli akhbar Warta Malaya.  Ibrahim Haji Yaakub dikatakan telah menerima uang sebanyak $40000 daripada Konsul General Singapura untuk membeli akhbar tersebut.  Akhbar ini akan dijadikan sebagai alat propaganda Jepang, malah Ibrahim juga diminta untuk membantu Jepang dalam peperangan menentang British dan bekerjasama dengan Jepang setelah Jepang Berjaya mengambil alih kuasa.  Penting untuk disebutkan bahwa pembelian akhbar Warta Malaya oleh Ibrahim Haji Yaakob dengan menggunakan wang Jepang sebenarnya melengkapkan agenda propaganda Jepang melalui akhbar.  Pembelian akhbar tersebut ternyata adalah semata-mata bertujuan untuk menarik perhatian kumpulan sasaran, yaitu Orang Melayu.[28]

  Tani Yutaka adalah merupakan salah seorang individu yang bertanggungjawab memberikan kerjasama dalam menjayakan aktivitas perisikan Jepang di Tanah Melayu.  Kerjasama yang melibatkan Tani Yutaka dan pihak Jepang bermula apabila Fujiwara Kikan itu sendiri dikehendaki menjalinkan hubungan dengan pelbagai pihak yang bersifat anti-British, terutamanya orang Cina, Melayu dan India.  Fujiwara Kikan telah Berjaya menjalinkan hubungan dengan Tani Yutaka di Tanah Melayu yang memang bersifat anti terhadap British.  Sifat anti-British yang dimiliki oleh Tani Yutaka adalah berpunca daripada insiden yang melibatkan adik perempuannya telah terbunuh.  Tani Yutaka telah mendirikan kumpulan anti-Cina dan anti-British yang dianggotai oleh orang Melayu dan Thai.  Kebolehan dan pengetahuan Tani Yutaka terhadap hal Tanah Melayu merupakan aset penting kepada pihak Jepang.[29]

  Kerjasama bersama-sama dengan orang lokal tidak terlepas daripada mendapat perhatian agensi perisikan Jepang.  Salah satu hal yang membolehkan aktivitas perisikan Jepang berlangsung dengan jaya ialah kesan langsung daripada keupayaan mereka memperoleh bantuan serta dukungan orang India dan Melayu.[30]  Dukungan orang India dan Melayu di Tanah Melayu membolehkan mereka memperoleh informasi secara mendalam.  Dukungan masyarakat India dalam aktivitas perisikan Jepang telah berlangsung sejak lewat tahun 1930-an.  Masyarakat India keturunan Sikh dilihat lebih aktif dalam aktivitas ini.  Hal ini merupakan kesan langsung daripada jalinan hubungan komunitas Sikh di Shanghai, Hong Kong, Harbin dengan Badan Perisikan Jepang.[31]

Hubungan antara agensi perisikan Jepang dengan komunitas India bermula di Jepang lagi.  Hubungan ini dapat dilihat dalam penglibatan beberapa pemimpin politik India yang menerima suaka politik di Jepang seperti Rash Behari Bose, Raja Mahendra Pratap dan Anand Mohan Sahey.  Mereka menjadi tenaga penggerak dalam aktivitas anti-British di Jepang dan China.  Pada tahun 1930-an, hubungan ini menjadi semakin giat dan berkembang bukan saja di Bandar Shanghai, Harbin dan Hong Kong, tetapi juga hingga Bangkok.[32]  Aktivitas perisikan Jepang juga mempengaruhi masyarakat keturunan Tamil di Tanah Melayu.  Sejajar dengan kesedaran politik dalam kalangan masyarakat Tamil, beberapa gerakan yang pada asalnya bersifat ekonomi yang digerakkan oleh pekerja estet getah telah bertukar aktivitas bercorak politik.  Buruh-buruh estet telah mendesak supaya gaji mereka dinaikkan dan kebajikan mereka diberikan perhatian.  Pada pertengahan 1941, sekitar 6000 hingga 7000 pekerja estet telah berdemonstrasi hingga membawa kepada kekacauan di Klang.  Pihak British menyedari bahwa aktivitas ini digerakkan oleh beberapa pemimpin politik Tamil termasuk R. H. Nathan dan Y. K. Menon.  Nathan merupakan setiausaha Indian Union kawasan Klang dan merupakan koresponden kepada akhbar Singapore Herald yang dimiliki oleh warga Jepang.  Penglibatan dia dalam aktivitas anti-British telah menyebabkan beliau dipulangkan ke India dan setelah sampai di Madras beliau ditangkap di bawah Peraturan Pertahanan India (Indian Defence Regulation).[33]

KESIMPULAN

Aktivitas Perisikan yang dilakukan oleh Jepang telah di rancang jauh sebelum perang dunia kedua, pengumpulan informasi terkait Tanah Melayu sudah sangat detail mulai dari bidang ekonomi, alam, budaya, social, bahkan politik pemerintahan kolonialisme British, pengiriman agen-agen perisik yang menyamar dalam seluruh profesi masyarakat baik itu perisik langsung maupun tidak langsung telah turut memberikan banyak Impact terhadap analisis Jepang dalam rangka untuk menakhlukkan Tanah Melayu kebijaksanaan dalam mengatur Strategi dan propaganda membuat Jepang lebih mudah masuk ke Tanah Melayu dan mendapat dukungan dari masyarakat lokal, karena seolah Jepang memberi harapan baru untuk rakyat Tanah Melayu.

Perisikan Jepang yang dilakukan di berbagai tempat pun tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Tanah Melayu, kolaborasi dengan masyarakat local untuk dijadikan agen perisik British mempermudah dalam mengumpulkan informasi, kesamaan adat dan budaya hasil analisis Jepun di Tanah Melayu kemudian di terapkan juga diberbagai daerah di Asia Tenggara, propaganda memunculkan golongan yang pro jepun dan anti Belanda mampu terwujud seperti yang terjadi di Tanah Melayu, citra yang dibangun Perisik Jepun untuk memanfaatkan tokoh-tokoh kunci pemimpin Masyarakat untuk meyakinkan masyarakat lokal telah Berhasil, Jepang mampu menghegemoni masyarakat yang akan dibantu untuk mencapai kemerdekaan dan mengusir penjajah British dari Tanah Melayu, kebijaksanaan strategi Jepun ini sangat lembut semacam teori yang tertulis dalam The Art of War.

BIBLIOGRAFI

Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 2014.

Azharudin Mohd Dali, ‘Kosaku (Perisikan) Jepang di Tanah Melayu dan Indonesia, Dialog Serantau Malaysia-Sumatera, Kuala Lumpur: Persatuan Penulis Nasional (Pena), 2008.

Azinatrah Mohd Yusoff, ‘Ibrahim Yaakob:Sumbangan dan Perjuangan politik di Tanah Melayu, 1930-1946’, Latihan Ilmiah Jabatan Sejarah, Universiti Malaya, Sesi 2002/2003.

Boris Hembry, Malayan Spymaster: Memoirs Of A Rubber Planter, Bandit Fighter And Spy, Singapore: Moonson Book, 2011.

Cheah Boon Kheng, ‘The Japanese Occupation of Malaya, 1941-1945:Ibrahim Yaacob and the Struggle for Indonesia Raya’, Indonesia, Vol. 28, Oktober 1979.

Joyce C. Lebra, Jungle Alliance, Japan and Indian National Army, Singapore:Asia Pacific Press, 1971.

Leng Yuen Choy, ‘The Japanese in Malaya before the Pacific War: Its Genesis and Growth’, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. IX, No 2, September 1978.

Lim Pui Huen & Diana Wong, War and Memory in Malaysia and Singapore, Singapore: ISEAS, 2000.

Mohammad Isa Othman, Pendudukan Jepun di Tanah Melayu 1942- 1945 (Tumpuan di Negeri Kedah, Kuala Lumpur: DBP, 1992.

Mohd Radzi Abd Hamid, Pendudukan Jepang Di Tanah Melayu dan Borneo, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 2009.

Peter Elphick, Singapore:The Pregnable Fortress, London:Coronet Paperback, 1995.

Ramlah Adam, Gerakan Radikalisme di Malaysia 1938-1965, Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 2004.

 


[1] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 2014. hlm. 248.

[2] Ibid, hlm 155. 

[3] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 250

[4] Boris Hembry, Malayan Spymaster: memoirs of a rubber planter, bandit fighter and spy, Singapore: moonson book, 2011, Hlm. 43.

[5] Mohd Radzi Abd Hamid, Pendudukan Jepang Di Tanah Melayu dan Borneo, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka, 2009, hlm. 1.

[6] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 235.

[7] Ibid, hlm. 153.

[8] Ibid, hlm. 153.

[9] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 154.

[10] Ibid, hlm. 44.

[11] Peter Elphick, Singapore:The Pregnable Fortress, London:Coronet Paperback, 1995, hlm. 107.

[12] Azharudin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan di Malaysia, hlm 237.

[13] Peter Elphick, Singapore:The Pregnable Fortress, hlm. 74.

[14] Mohd Radzi Abd Hamid. Pendudukan Jepang di Tanah Melayu dan Borneo, hlm. 46.

[15] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 171.

[16] Azharudin Mohd Dali, ‘Kosaku (Perisikan) Jepang di Tanah Melayu dan Indonesia’, Dialog Serantau Malaysia-Sumatera, hlm. 139

[17] Ibid.,

[18] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 174

[19] Peter Elphick, Singapore: The Pregnable Fortress, hlm. 173

[20] Peter Elphick, Singapore:The Pregnable Fortress, hlm. 73.

[21] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm 173

[22] Leng Yuen Choy, ‘The Japanese in Malaya before the Pacific War: Its Genesis and Growth’, Journal of Southeast Asian Studies, Vol. IX, No 2, September 1978, hlm. 174.

[23] Ibid., hlm. 175.

[24] Mohammad Isa Othman, Pendudukan Jepun di Tanah Melayu 1942- 1945 (Tumpuan di Negeri Kedah, Kuala Lumpur:DBP, 1992, hlm. 5

[25] Lim Pui Huen & Diana Wong, War and Memory in Malaysia and Singapore, Singapore: ISEAS, 2000, hlm. 53.

[26] Cheah Boon Kheng, ‘The Japanese Occupation of Malaya, 1941-1945:Ibrahim Yaacob and the Struggle for Indonesia Raya’, Indonesia, Vol. 28, Oktober 1979, hlm. 87

[27] Ramlah Adam, Gerakan Radikalisme di Malaysia 1938-1965, Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 2004, hlm. 22.

[28] Azinatrah Mohd Yusoff, ‘Ibrahim Yaakob:Sumbangan dan Perjuangan politik di Tanah Melayu, 1930-1946’, Latihan Ilmiah Jabatan Sejarah, Universiti Malaya, Sesi 2002/2003, hlm. 61.

[29] Joyce C. Lebra, Jungle Alliance, Japan and Indian National Army, Singapore:Asia Pacific Press, 1971, hlm. 8-10

[30] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm. 175.

[31] Ibid.,

[32] Ibid, hlm. 176.

[33] Azharuddin Mohamed Dali, Sejarah Perisikan Di Malaysia, hlm, 176.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Sejarah yang Tak Terulang

    Masa Lalu gak akan muncul kembali namun kita setidaknya mampu belajar dari peristiwa masa lalu

IDEALISME SEMU

    Bicara tentang Idealisme, mungkin kata ini tak asing ditelinga Mahasiswa, apalagi Mahasiswa Aktivis yang menjunjung tinggi kata ini, berat rasanya buat siapapun Politikus, Negarawan, Agamawan,Sejarahwan dll, Bahkan Agamawan yang menjadi benteng keimanan, gejolak batin sontak timbul ketika kata itu tergadaikan materi-materi yang menggoda, Marx pun lebih jujur ketika menanggapi soal materi, Apa mungkin kejujuran Marx telah jadi realitas ditengah gempuran sistem yang semakin mencekik, Ah, Mungkin Kata itu hanya teks terbangkai yang selamanya akan menjadi Mitos para Pecandu Jabatan & Materi.

ASAP PEMBUNUH

    Berharap hujan datang dan memberi secercah harapan. Hujan dengarlah rintihan dan pekikan bayi, anak-anak, ibu, bapak, nenek dan kakek. Tak mampu berujar untuk menikmati nafas yang sebelumnya mereka hirup. Mata tak dapat melihat seperti yang sebelumnya mereka lihat. Hidup dalam miniatur neraka. Menyiksa, merusak tatanan kehidupan. Sudah lelah mereka merontah saling tuding tak ada jawaban datang dari bapak berkopiah, ber jas dan berdasi mewah. Seolah keadilan hanya sebuah fatamorgana bagi mereka. Di Hari Sumpah Pemuda ini para Motor Bangsa harus bertindak, tak hanya melihat, berujar dan saling menyudutkan. Semoga bangsa ini mampu bertahan dalam buaian pengkhianatan. Selamat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2015 #SaveRiau #SaveBorneo #SaveSumatra #SaveSingapore #SaveMalaysia

Pengunjung

    19.935